Skip to main content

My Internet Journey

Ketika zaman gw masih SMP, gw ama temen gw getol banget ke warnet. Motivasi temen gw ada banyak.

Ada yang suka download mp3 (dulu altavista.com mencari mp3 sampe ke ftp server bahkan ke private, trus diajarin sama dia cara masuk pake anonymous user). Zaman itu, kita bisa masuk ke direktori internet mana aja sebebas jidat, dulu bot-bot gila yang dinamakan webcrawler itu belum distandarisasi. Walhasil, lagu gratis!

Terus, ada juga yang nyari web eksotis GILA!!! Contohnya, dulu ada yang namanya marijuana.com (sempet temen gw bikin emailnya di sana). Web ini menyediakan tata cara menyelundupkan marijuana lewat bandara. Keren gila, khan? Ada juga warez.com dimana setiap hari XXX baru diluncurkan dan diupdate (gratis gak kayak sekarang).

Zaman itu juga kayaknya era kebebasan untuk menjadi hacker (hacker!=cracker although apprentice hacker -> cracker). Gw ingat, ada banyak situs underground yang ngajarin hal tersebut. Gw juga ingat di Indonesia ada komunitas kecoak busuk yang jadi tempat mangkal para hacker(masih ada gak, yah, komunitas itu).

Pada waktu itu, gw ingat banget ada satu hacker yang jadi idola (OK, gw lupa namanya, maklumlah... ^_^') meninggal dunia. Dari profil dia, gw tertarik untuk jadi hacker. Gw juga sempat melihat peraturan sebagai hacker:

"Loe boleh ngetes server orang, tapi, kalo loe berhasil, loe tinggalin pesan ke adminnya tentang kelemahan sistemnya dan saran perbaikan tanpa merubah atau mengambil data apapun."

Itu makanya hacker sejati adalah admin best friend. Gw sempat belajar beberapa teori dan sebelum gw sempat mempraktekkannya, web gw di geocities di-deface. Waktu itu lagi heboh-hebohnya Geocities bisa dibobol. Dari situ gw sadar, gimana gak enaknya jadi orang yang dibobol. Yah, akhirnya gw gak jadi praktek.

Gw juga sempat berteman dengan teman yang punya teman seorang carder. Wuih, ternyata di Indonesia itu carder keren, oi. Dulu itu keamanan belum secanggih sekarang. Banyak cara untuk mendapatkan identitas kartu. Bahkan, dulu sempat ada website ato program underground yang bisa men-generate id kartu kredit. Trus, banyak orang bego yang gak ngerti pentingnya jaga id card. Tenang, gw punya harga diri, gw gak ikut-ikutan, lho, cuma pengamat doang.

Trus, dulu juga zamannya bokep masih gratis. Wuih, dulu sempat ada foto-foto bugil dari artis ternama. Sayangnya, boongnya ketahuan. Foto itu hasil join dari foto biasa disatuin dengan foto bokep yang bertebaran di internet. Kalo di zoom keliatan kalo ada bekas latar belakangnya. Ato, bahkan keliatan beda antara kepala dan badan, lebih parah lagi ada foto yang badan dan kepalanya gak proporsional.

Itu makanya, gw, sampe masuk Fasilkom, gak pernah taruh foto ke Internet. Makanya, gw bingung sama orang-orang, kok, mau-maunya naruh foto ke friendster. Bisa aja kalo ada yang iseng:
tinggal crop-crop sedikit-> trus taruh wajah ke layer foto bokep-> trus fotonya dinaturalisasi dengan meratakan pake Fourier Transform + resize + blur di ujung -> trus image digabungin -> jadi, deh foto bugil salah seorang di Friendster. Posting ke email berantai! BANZAI!!!

Aduh, tenang, gw gak serendah itu! Gw jadi takut sendiri sama kemampuan gw. Hiii...

Btw, dulu sebelum ada spam 'n worm, para hacker 'n cracker biasa pake linux buat login ke isp trus .... No system is safe. Dulu, tuh, enak ngeliat DDOS 'n cari internet hole: snort.. snort.. snipping all the way... he.. he.. he..

Aduh, tenang, gw gak pernah ikutan yang kayak gitu, gw cuma jadi pengamat.

Duh, udah ah, masih banyak sisi gelap internet lainnya yang gw udah lupa/lupa-lupain, termasuk cara meng-crack provider gsm biar bisa nelpon gratis. Tapi, moral of the story:

Jangan pernah 100% percaya kepada teknologi, teknologi is a tool not a lifestyle and please don't be. Gw emang rada paranoid, tapi gw tahu kalo teknologi yang semakin terpersonalisasi semakin memiliki data pribadi kita -> memiliki identitas kita.

If it becomes a lifestyle and u suffer alot if lacking of it, just a matter of time u just become a slave of technology.

Even worse, someone could steal ur data and use ur identity to do bad thing. U'll just know one day from debt letters and police asking for your name because someone using ur id to mug other people.

Ha..ha.. ha.. kayaknya gw terlalu paranoid, gara2 gw tahu semua sisi gelap teknologi, gw jadi males menggunakan teknologi, gw cuma bisa bilang: Gw tahu cara buatnya, tapi gw gak tahu cara makenya.

Comments

  1. Lha khan udah gw bilang, sebelum gw masuk Fasilkom, gw gak pernah posting foto gw. Gw posting foto pertama kali di csui02.net, itu pun cuma di sana. Baru akhir-akhir ini gw mulai pasang foto. Tolong dibaca seksama kalimatnya.

    ReplyDelete
  2. Anonymous9:12 AM

    sekarang justru gag usah ngedit, poto di internet udah banyak yg bugil :D

    ReplyDelete
  3. Jepe...mantab...mendingan dengerin history of internet dari elo daripada di kelas Komas =D

    ReplyDelete
  4. JRAN! Modem pertama kita samaaah!! xD Gila jaman dulu USR itu legendaris banget dah :p Tapi mahal naujubilah xD, dulu gw pake IBM 386 wakaka ISP CBN, WinSOCKS, Eudora, ck ck ck... jadi terkenang *apasih*, jepe, loe dulu gak maen MUD/MUSH/MOO dan sejenisnya? :p

    ReplyDelete
  5. # tino:
    Jadul justru web bokep banyak yg gratisan, gak perlu bayar 'n gak pernah dibawa-bawa ke link aneh2 kayak 4 thn belakangan. Cuman, dulu pas internet booming, dapet foto bugil artis tertentu itu adl kebanggaan tersendiri.

    # zaq:
    Gw gak sejadul itu, gw ngenet make Netscape Comm 'n IE. Tapi yang menarik adl pas jaman DHTML. Buat 1 aksi ada 3 standar: IE4 vs NS4 vs W3C (walo akhirnya cuma bikin ver IE4 vs NS4. Notepad is webmaster best friend.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

STAN vs. UI

Ugh, kasihan banget adek gue. Saking kepinteran dia jadi dapet Akuntansi UI dan STAN. Jadi bingung mau masuk yang mana. Beberapa orang (termasuk orang tua gue), menyarankan masuk STAN. Gue malah memperburuk suasana dengan membela memasuki Akuntansi UI, maklum bela almamater. Duh, gue jadi merasa bersalah bikin dia ragu-ragu. Kira-kira enakan masuk mana, yah? Gue juga gak tahu keuntungan masing-masing. Hasil debat sementara: ~ Untuk jangka panjang masuk UI, untuk jangka pendek STAN. ~~Tapi, dia itu kan cewek, ntar pas menikah kemungkinan besar karir terhambat. Eits, ntar, dulu, sekarang kan jamannya emansipasi, bisa aja cowoknya yang jadi BRT. ~ STAN sarang korupsi, kalo masuk STAN jadi pegawai negeri. Kalo mau kaya harus korupsi. Tapi kalo masuk UI, lulus masuk jadi akuntan publik. Sekarang ini, orang membayar akuntan publik untuk memanipulasi nilai pajak dan aset. *SIGH*. Jadi gak ada yang beres ~ dll. Yah, udah gue jadi bingung, apa lagi dia nanya saran gue. Buah, gue gak pengalaman ...

Installing Goodix Fingerprint Reader Driver on Fedora

I currently have a Lenovo Thinkpad L14 laptop equipped with fingerprint. I was `belok` from KDE Neon to use Fedora 40 because of someone. Now I am tempted to enable my fingerprint: lsusb | grep -i fingerprint Bus 001 Device 004: ID 27c6:55b4 Shenzhen Goodix Technology Co.,Ltd. Fingerprint Reader Dump the firmware Assuming this is a fresh install, lets do some magic by getting some dependencies: sudo dnf install gcc git python-pip python-devel openssl Let's get the source code: git clone --recurse-submodules https://github.com/goodix-fp-linux-dev/goodix-fp-dump.git cd goodix-fp-dump Create an isolated Python environment: python -m venv .v source .v/bin/activate Do the magic: sudo su pip install -r requirements.txt python run_55b4.py exit There are some python scripts available. I run run_55b4.py because my device ID is 27c6: 55b4 . It will spell some nonsense, which is a good thing. That nonsense actually the firmware captured by our device. Also, I typed exit becaus...

Vibe Coding Workflow

I am currently working for having A.I. workflow for generating projects. There are two things that need to be tackled for that: 1) hallucinations; and 2) old codes. I have met several patterns to tackle those two and just need to formulate the patterns into a general flow. Thankfully, a video of building fullstack app using A.I. from Raf Dev channel inspired me to make the formulation. He used multiple A.I. engines to his need: He used Google Gemini to onboard his ideas and summarized it. He forked a boilerplate of NextJS project into a new project. Then, he added the summary from Google Gemini into a file for context. He used QWEN Code, a QWEN3 code engine that is a fork from Gemini CLI, to build the project. When working with an existing project, A.I. will take the whole project as a context. It also means that it will stick with the version used by the libraries. It also will try to update its knowledge based on the common pattern in the project. Most of the time, it will use the c...