Baru tahu tentang manifesto Gerindra yang berisi Pemurnian Agama. Artinya, siapa saja yang menjadi Pemimpin dapat menggusur orang dengan alasan pemurnian Agama. Agama bisa dijadikan senjata bagi yang berkuasa, dong?

Seperti Ayatullah Khomenei menggusur rekan-rekan Revolusi Irannya. Seperti Anwar Ibrahim dipenjarakan dengan tuduhan seksual. Seperti Warga yang memperkosa seorang Wanita yang ketahuan berzinah.

Bacaan Lebih Lanjut:
  1. Manifesto Perjuangan Partai Gerindra, p. 40.
  2. Indonesia: A Violent Culture?

Mengapa ide Pemurnian Agama laku di masyarakat?

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan. Keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat yang rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat , dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi figur.
Ada orang punya ilmu tapi tak paham, ada yang paham tapi tak menjalankan.
Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh dan tak tahu diri.
Ada orang yang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak ber-Tuhan.
Lalu di antara semua itu, dimana aku berada ? 
-- Imam Ali Bin Abi Thalib R.A
Maka jawabku untuk sebuah pertanyaan ini:
Kalau aku, aku berada di golongan yang berusaha mencari eksistensi hidup, termasuk memperhitungkan keberadaan Eksistensi Yang Lebih Tinggi yang menjamin eksistensi kekal bagiku.
Tak ada seorang pun yang melihat-Nya. Tak ada seorang pun pernah ke Tempat yang Dijanjikan-Nya. Semua hanya mendengar dan berusaha memaknai peristiwa Alam sebagai Idenya. Pun demikian, aku termasuk seorang penjudi yang bertaruh hidup kepada salah satu ide tentang Dia.
-- JP (Bukan Nama Sebenarnya)
Setiap manusia punya kecemasan tentang kematian. Isu global seperti Perang Dunia, Terorisme, dan Represi Ekonomi menjadi katalisnya. Kematian dan kerusuhan menjadi tema mencemaskan.

Katalis lain yang sangat kuat adalah kejenuhan hidup. Biasanya, orang yang menjalani hidup yang "berbeda" dengan norma masyarakat. Itu makanya, kita sering melihat orang yang "gaul" masa SMA, kemudian menjadi orang paling alim. Atau sebaliknya, ketua organisasi keagamaan menjadi seorang yang "gaul".

[NB: Istilah "gaul" saya berikan untuk orang-orang social butterfly. Bahasa Indonesianya apa, yah?]

Agama sangat berkembang di kala kecemasan melanda. Ide tentang ada Khalik yang melihat semuanya setidaknya mampu membius manusia untuk melupakan kecemasannya. Agama menjadi sebuah manajemen teror.

Apa, sih, kecemasan manusia?

Tergantung mazhab Anda, akan banyak variasi yang diberikan. Namun, saya memandangnya sebagai isu Eksistensi. Manusia butuh untuk menjaga Eksistensinya.

Manifestasi Eksistensi tidak melulu soal hidup tetapi dapat dalam beberapa alternatif selain bertahan hidup. Ada manusia yang menyatakan eksistensinya terabadikan dalam nama atau patung. Ada manusia yang menyatakan eksistensinya dalam Marga. Ada manusia yang menyatakan eksistensinya dengan membunuh.

Agama menawarkan hal yang lebih baik. Beberapa poin ada yang sudah dibahas, namun berikut yang agama tawarkan:
  1. Manajemen Teror. Isu kematian yang permanen dapat dijawab. Manusia senang dengan jawaban adanya tempat lain: surga, valhalla, nirwana, dll yang disediakan bagi yang percaya -- kendati tidak ada seorang pun yang hidup yang pernah ke sana, kecuali bagi sang pembawa berita yang telah ratusan/ribuan tahun tidak ada lagi.
  2. Kebersamaan. Agama memberikan rasa kebersamaan. Partisipasi dalam kegiatan keagamaan memberikan rasa bersama senasib sepenanggungan. Secara natural, dalam sebuah komunitas lokal agama, demografi yang ada cenderung homogen.
    Ini secara natural memberikan rasa uniform bagi Agama. Agama yang uniform memberikan kebersamaan unik mengingat Agama juga menawarkan uniform perasaan: devosi dalam penyembahan, ayat-ayat yang mengatur cara melihat hidup, dan perasaan satu sama lain.
  3. Sense of Meaning. Manusia sebagai makhluk akhlak dibangun dengan peradaban yang menjunjung tinggi "Arti". Pisau Dapur berfungsi untuk memotong bahan makanan. Televisi berfungsi untuk menyediakan tayangan gambar bergerak. Pengering Rambut berfungsi untuk mengeringkan rambut.
    Manusia, dalam konteks Agama, diberikan fungsi yang sakral dan tinggi, fungsi tujuan yang lebih besar dari hidup (Higher Calling: There is more than life).
  4. Kuasa. Agama sampai taraf tertentu memberikan rasa berkuasa kepada manusia. Rasa ini membuat manusia menjadi percaya diri dalam melangkah. Ia pun memiliki ekstasi untuk dapat tetap tersenyum walau seberapa pun parahnya hidupnya. Pada sisi ekstrim, bahkan sampai tersenyum dan bernyanyi ketika Kaisar Gila membakar tubuhnya hidup-hidup.
Ketika beberapa hal tersebut terpenuhi, eksistensi seorang manusia terpenuhi. Setidaknya, ia menerima dirinya sendiri. Seperti Robert Maslow mengatakan bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah Penerimaan Diri atau Aktualisasi Diri.
Bacaan Lebih Lanjut:
  1. Religion and Happiness.
  2. Religion is a sure route to true happiness
  3. Happiness And Religion: Are Religious People Happier Than Non-Believers?

Whoa... Besar Sekali Kuasa Agama

Tentu saja! Simplifikasi dari itu adalah sebuah ungkapan: "Agama candu bagi masyarakat". Namun, ide Agama yang memberikan akses kepada kebahagiaan memberikan alasan yang luar biasa bagi orang-orang yang mengerti itu.

Kaum-kaum yang mengkhaskan diri untuk mendalami agama ini pun berkembang. Mereka menggiring Umat untuk hidup sesuai dengan isi Sumber Kebenaran (Kitab Suci masing-masing Agama). Kekuasaan menggiring massa inilah yang disebut dengan Politik. Pada satu titik saturasi, persaingan antar Kaum Agama pun mengarah kepada Supremasi.

Kaum Agama ini yang kemudian mau menjalankan politiknya dengan menawarkan Pemurnian Agama. Apalagi, Agama dianggap sakral dan definitif. Cukup dengan pemahaman golongan ini dan ditambah dengan kuasa represi, sebagian besar umat akan diam dan menerima.

Kuasa Kaum Agama adalah Kuasa Tuhan, demikian ide yang diterima masyarakat

Mereka tak pernah mempertanyakan keputusan Kaum Agama karena akses kepada sumber Agama yang eksklusif bagi kaum tersebut. Mereka mempercayakan tafsir kepada Kaum Agama tersebut. Mereka dianggap bagian tertentu di masyarakat untuk mencarikan tahu bagi masyarakat yang lain tentang Agama yang dianut. Seperti Koki untuk menyediakan makanan siap saji, Kaum Agama menyediakan tafsir siap saji.

Aneh, memang. Banyak yang memilih Agama sebagai Sumber Kebenaran tetapi tidak mencari sendiri Kebenaran yang dari Sumber Agama tersebut. Kebanyakan lebih suka terima yang siap saji. Kemungkinan karena mereka pun dibesarkan untuk pergi ke Restoran Siap Saji yang berisi Tafsir-tafsir Ayat Siap Jadi.

Masing-masing Restoran punya ide sendiri. Ada yang menawarkan bonus Hidup Makmur, Mati Syahid, Argumentasi Dominan, atau Surga Kekal. Semua ada saja yang menawarkan, tergantung Konsumen yang mau membelinya.

Tapi, ya, itu.

Restoran sama seperti unit-unit usaha lainnya berkembang dan dewasa dengan persaingan. Tanpa adanya persaingan, bahkan ikan busuk ditawarkan pun tak ada yang berani menolak. Sampai akhirnya, Konsumen jengah dan memilih untuk tidak lagi makan makanan di Restoran tersebut.

Ya, berharap saja bahwa Restoran itu bukan Restoran Kebenaran. Alangkah malangnya manusia mendapatkan Koki yang jahat.